We Dance with Mantas

pic by Shawn Heinrichs
 
“Cek deh video ‘Manta Last Dance‘ ini” kata Riyanni.
Wuooooww… seorang wanita menari gemulai meskipun di bawah air. Tangannya nyaris menggapai manta yang hilir mudik seliweran di samping tubuhnya.
 
“Kita akan mengadakan photoshoot dengan yang buat nih.. dengan manta juga!”
 
 Jadilah gw, Marischka Prudence dan Dayu Hatmanti menjadi sukarelawati untuk melakukan pemotretan yang pastinya akan berada di bawah air terus menerus. Seru sekaligus menegangkan. Berarti kan kudu jago nahan napas ya?
 
Berlokasi di Nusa Penida, Lembongan, pemotretan bekerja sama dengan Manta Trust, satu lembaga yang bergerak pada penyelamatan Manta di seluruh dunia, dan mengedukasi masyarakat untuk tidak memberikan ancaman  pada manta. Nusa Penida pun dipilih berdasarkan reputasinya sebagai Manta Point di musim-musim tertentu. Musim dimana para Manta berkumpul dan ‘berdansa’ di lokasi tertentu yang mudah dicapai oleh para diver atau snorkeler. Biasa dikenal dengan istilah ‘celaning station’.
Untuk menghasilkan hasil foto yang sesuai dengan konsep pun, Manta Trust menggandeng Shawn Heinrichs sebagai fotografer yang telah gape bekerja di bawah air dan berinteraksi dengan makhluk yang indah ini. Beberapa karyanya termasuk ‘Manta Last Dance’ 
Manta sendiri kini terancam keberadaannya semenjak ia menjadi target buruan. Beberapa desa di Indonesia memang telah berburu manta sejak jaman dulu. Tapi hal ini berbeda ceritanya jika manta mulai di cari untuk memenuhi pesanan konsumen. Insangnya diburu karena mitos dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Belum lagi bentuk dari bagian sayapnya dapat mengelabui konsumen sebagai pengganti sirip hiu yang juga diisukan banyak memiliki kelebihan sebagai obat.
Ironisnya, manta sama seperti hiu. Proses berkembang biak mereka tidak secepat ikan-ikan konsumsi lainnya. Untuk menjadi dewasa, seekor manta membutuhkan waktu 15-20 tahun. Dan dalam setahun hanya beberapa kali saja bereproduksi. Kecepatan tangkapan manta jauh lebih tinggi dibanding lamanya proses seekor manta berkembang biak. Hal inilah yang terjadi bertahun-tahun dan mengancam keberadaan manta dewasa ini.
Selain itu manta sendiri jauh lebih menguntungkan jika dibiarkan hidup. Wisata selam yang melibatkan manta sebagai objeknya sangat dicari para diver. Mereka mau membayar mahal hanya untuk melihat keindahan makhluk ini. Perbandingannya adalah USD 500.000 untuk penangkapan manta, berbanding USD 100.000.000 keuntungan pertahun jika dibiarkan hidup.
Pemotretan dilakukan setelah para model menerima briefing dari Shawn, namun sayangnya Riyanni Djangkaru harus melepas kesempatan ini berkenaan dengan perubahan jadwal pemotretan yang bentrok dengan jadwalnya. Dayu, Marischa dan Gemala meneruskan proses peotretan ini.
Tanpa menggunakan scuba, ketiganya harus berpose di dekat manta dengan kemampuan freedive seadanya. Kondisi laut yang saat itu bergolak semakin menyulitkan baik model maupun fotografernya. Percobaan mencari komposisi yang terbaik dilakukan terus menerus tanpa mengenal lelah, walaupun beberapa kru kapal sudah dilanda mabuk laut.

Hasil kerja keras semua pihak dapat terlihat di foto yang dihasilkan. Dengan kampanye ini diharapkan masyarakt semakin sadar akan pentingnya menjaga keberadaan manta, serta menjaganya dari kepunahan.
 
pic by Shawn Heinrichs
pic by Shawn Heinrichs
 
Advertisements

17 thoughts on “We Dance with Mantas”

  1. Photo ini buat gw ngiriiiiii sangatttt karena kangennn pgn ketemu black manta lagi!!!! Hahhahaha proud of you Al 😍😍😍😍 and lucky you sist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s