Nias


Nias, satu nama yang sering kita dengar tapi mungkin tidak terbayangkan dalam benak kita, kecuali tradisi lompat batunya yang terkenal itu. Pertengahan Desember tahun kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Nias, disertai harap harap cemas karena reputasi Nias yang saya dengar sebelumnya.

Perjalanan dimulai dengan penerbangan dari Jakarta ke Medan, yang memakan waktu sekitar 1.5 jam. Perjalanan dilanjutkan dari Medan ke Gunung Sitoli, kota dimana bandara di Nias berada. Pilihan maskapainya juga beragam, Riau Airlines, Susi Air, Merpati dan SMAC. Tapi jangan mengharapkan pesawat bermesin jet seperti yang kita ketahui pada umunya, maskapai maskapai ini menggunakan pesawat dengan teknologi yang kita kenal pada saat kita masih kecil dulu, dengan baling baling, rate sekitar 600 ribu rupiah.

Dari Gunung Sitoli saya melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam dengan menggunakan mobil sewaan yang memang banyak disediakan di Nias Utara. Ongkos sewa sekitar 500 ribu. Semenjak tsunami pada tahun 2006 kemarin jalan jalan di Nias banyak mengalami perbaikan, dan hasilnya, ruas Gunung Sitoli – Teluk Dalam full hot mix!

Oke, memang hot mix, tapi jembatan jembatan yang ada tetap tidak permanen. Jembatan besi ini berlapis kayu yang gampang sekali lepas. Tapi penduduk lokal siap membantu jika kita dalam kesulitan dengan imbalan beberapa rupiah. Perjalanan Gunung Sitoli – Teluk Dalam memakan waktu sekitar3 jam.

Teluk Dalam terletak di Nias Selatan, dan terkenal dengan Pantai Sorake nya, atau disebut juga Lagundri Bay, dan merupakan spot surfing bertaraf internasional. Tadinya mimpi untuk surfing di Lagundri pun saya tidak berani, dan sekarang pantai indah dengan gulungan ombak yang sempurna itu terpapar di depan mata, sangat mengundang untuk dicoba.

Kami memutuskan untuk bermalam di Sorake beach hotel. Sebenarnya disana berjajar penginapan penginapan di sepanjang bibir pantai, semuanya bernuansa tropis dan sangat “surfing” dengan kata lain penginapan ini sangat alami dengan dinding kayu yang pastinya tidak memerlukan pendingin lagi. Warung warung kecil terdapat disetiap lantai dasar penginapan, memungkinkan kita untuk melihat aksi para peselancar tanpa merasa kepanasan.

Sorake beach adalah hotel dengan standar yang lumayan bagus, walaupun dari segi penampilan sedikit disayangkan karena terlihat kurang terurus, terutama cat di dinding yang terlihat sudah mengelupas, tapi begitu saya melihat interior kamarnya saya terkejut juga. Sangat kontras dengan tampilan luarnya, interior Sorake beach sangat hangat dan hommy dengan material dinding kayu gelap, berpendingin ruangan, lampu lampu spot segingga menimbulkan kesan dramatis. Rate permalam saat itu 250 ribu. High season di nias biasanya adalah antara bulan april-agustus, dimana ketinggian ombak mencapai ukuran yang mencengangkan sehingga mengundang turis turis mancanegara untuk berdatangan.

Hari pertama di Nias kami memutuskan untuk mengunjungi perkampungan yang terkenal dengan budaya lompat batunya, Buomataluo. Konon desain lompat batu pada mata uang rupiah pecahan seribuan dulu itu diambil fotonya dari kampung ini, dan orang yang melompatnya masih ada walaupun sudah tidak melompat lagi. Sebelum masuk ke kampung kami disambut dengan tangga yang tinggi sekali, sayangnya saya sudah tidak kepikiran lagi untuk menghitung anak tangganya karena pasokan oksigen yang susah masuk. Kampung di Nias sangat unik. Semua rumah adat terbuaqt dari kayu yang mencuat ke depan, dan semuanya harus berhadapan. Jaman dahulu waktu masih sering terjadi perang antar kampung tatanan rumah yang berhadapan ini berguna untuk memperkecil gerak musuh yang menyerang.

Rumah besar yang merupakan rumah adat utamanya mempunyai pintu yang terdiri dari balok balok kayu yang sangat besar, berdiameter kurang lebih 1 meteran. Dan di halaman depannya terdapat meja batu berukuran sekitar 1.5 meter kali 2.5 meter dengan permukaan yang sangat halus termakan usia. Semua desain rumah besar ini sangat menggambarkan jaman megalithic, dengan material yang serba besar.

Tidak lama, para pelompat pun bersiap siap. Mereka sudah melompat dari awal umur belasan tahun. Tinggi batu yang menjadi rintangannya 2 meter dengan lebar 60 centi. Sayangnya yang boleh melompat hanya pria saja, kalau wanita boleh, pasti saya sudah mencoba dengan berbagai cara untuk melompati batu itu. Dahulu, lompat batu ini diperuntukkan untuk mengetes kedewasaan pria yang sudah memasuki masa dewasa, dan layak ikut berperang mempertahankan kampungnya.

Hari hari selanjutnya diisi dengan menjajal ombak di pantai Sorake yang sangat tersohor itu. Di pantai ini ada dua spot yang bisa di pakai, inside dan outside. Asiknya, ombak di spot ini selalu ada, bentuk pantai dan dasar karangnya sangat bagus untuk menangkap gelombang segala ukuran. Maka, tanpa sabar saya segera menyiapkan peralatan yang terdiri dari surfboard, legrope, dan tak ketinggalan, booties ( sepatu karang ). Dengan ditemani para grommet ( anak yang surfing dibawah umur 17 tahun ) saya mulai paddle ketengah dengan perasaan tak menentu antara bersemangat dan tegang.

Saat itu ketinggian ombak berkisar antara 1.5 meter hingga mencapai 3 meter. Tinggi ombak yang demikian lumayannya menurut saya adalah hari hari ombak kecil bagi mereka. Mereka begitu bangga akan ombak Teluk Dalam ini. Dan begitu saya berhasil take off di ombak pertama saya, rasanya nikmat tiada tara. Bentuk yang sempurna dari ombaknya dan gulungan yang lumayan jauh membuat saya puas dengan kualitas ombak Nias. Jangan harap saya mau paddle kembali setelah mengambil ombak, terlalu jauh jaraknya, lebih baik jalan kaki saja menyusuri karang untuk mencapai titik semula.

Sebenarnya gempa beberapa tahun silam juga sangat mempengaruhi kontur dasar laut dari point surfing ini. Karang karang yang ada cenderung naik sehingga gulungan ombak lebih cepat. Saya dapat membayangkan keadaan sebelum gempa, pastinya lebih nikmat lagi.

Lokal surfer di Teluk Dalam sangat baik, mereka sangat menghargai pendatang dari luar, terutama dari daerah yang tidak lazim menghasilkan peselancar. Jakarta adalah contoh yang tepat. Dan pada low season seperti ini tidak terlalu banyak peselancar luar yang bertandang, sehingga kondisinya lebih mengasikkan lagi, tidak terlalu rame di laut.

Tidak terasa waktu yang disediakan untuk berkunjung ke Nias sudah habis. Pada saat malam terakhir kami mendapat undangan bakar ikan bersama anak anak pantai Teluk Dalam yang diketuai Bang Azis. Bersama sama kami bermain gitar, bernyanyi dan menyantap ikan bakar yang berjejer jejer di depan mata. Benar benar kunjungan yang tak terlupakan, Sorake beach, a loveable righthander, a loveable beach..

Paskah big day out



Pic by Andris ( http://www.indosurfoto.com)

Ada rencana besar yang diset untuk liburan Paskah kali ini. Patokan hari yang diberikan sekitar satu bulan sebelumnya dari teman baru kami di Singapore ternyata tepat pada saat ombak flat di Jawa Barat. Biasanya kami kecewa, tapi kali ini berbeda!!! Malah kami mengharapkan hari hari flat untuk menjalankan rencana besar ini. Kami akan menyusuri sepanjang pantai selatan disekitar Pangandaran! Tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau kami akan menemukan spot lain disamping spot biasa tempat kami surfing.

Total jumlah kami bertujuh, dengan dua mobil. Tepat pukul 22.00 saya, Andryz dan Nabel menjemput teman baru yang kami kenal dari Facebook di bandara Soekarno Hatta. Dengan bag papannya yang besar akhirnya Mike Lim sampai juga di Jakarta. Selamat datang di scene surfing Jawa Barat, teman! Tanpa banyak menunggu kami langsung menuju jalan tol Cikampek kearah Bandung, dimana kami akan bertemu dengan teman-teman di mobil yang satu lagi, Ivan Handoyo, Albert dan Tetty.

Perjalanan Bandara sampai ke Pangandaran memakan waktu 8 jam! Beberapa dari kami yang belum terbiasa dengan waktu tempuh yang luar biasa itu terus bertanya tanya “are we there yet?”. Tapi setengah dari perjalanan dihabiskan dengan ngobrol ngalor ngidul, maklum ada teman baru yang di interview habis habisan dan sebaliknya..

Sekitar pk 5.00 kami akhirnya sampai di Pangandaran dan langsung ke Mini Tiga, penginapan teman kami, Leo. Ternyata kami tidak diberikan kesempatan beristirahat dulu, begitu teman teman kami yang tergabung dalam kloter pertama bangun di penginapan itu, mereka langsung mengajak kami ke spot yang baru mereka temukan kemarin. Tadinya rasa kantuk membuat saya berpikir dua kali untuk langsung mengiya kan ajakan itu, tapi berhubung semua ikut, masa saya ketinggalan kereta? No way! Jadilah kami cuma menaruh barang, dan menyambar boardshort serta legrope, langsung berangkat lagi.

Hari sudah terang ketika kami menuju ke timur dari Pangandaran. Memasuki area pesisir saya benar benar penasaran, kira kira mana ya ombak yang bisa dipakai? Ternyata kami tidak terlalu jauh menyusuri. Setelah parkir di bawah pepohonan kelapa yang banyak menaungi pantai, kami segera melihat ombak itu. Menurut pandangan saya sih mirip sekali dengan point Peak yang ada di Aceh, tetapi lebih tebal, cepat dan tidak terlalu panjang. Dari pantai kelihatannya tidak telalu besar. Leo dan Fridoun sudah lebih dulu masuk, sementara yang lain bersiap siap.

Setelah ada skala perbandingan dengan manusia, ombak itu tidak terlihat kecil lagi. Sangat lumayan malah. Benar benar ombak barrel! Take off dengan penuh komitmen. Makanya spot ini kami beri nama : Sucker. Nama itu sangat cocok dengan karakter ombaknya, menghisap semua yang ada didepannya, jangan sampai telat take off kalau tidak mau nenyusuri jajaran karang di depannya. Leo benar benar menghabiskan semua ombak disini, terutama yang berukuran besar dengan elevator drop nya. Melihat bentuk nya nyaris nyaris serangan jantung saya!

Setelah puas, kami kembali ke Mini Tiga dan mati suri kecapean.. Hari pertama yang mengesankan. Malam harinya kami barbeque dengan tiga ekor ikan yang ternyata tidak habis dibagi ber tigabelas juga. Perfect day!

Keesokan paginya, hari kedua, kami bersiap siap dari pukul 04.00 dan kali ini rute kami adalah menyusuri bagian barat dari Pangandaran. Penyusuran kali ini tidak semudah yang dibayangkan. Sepertinya kami salah waktu, ternyata spot spot yang ada lebih bagus pada saat surut, semetara saat itu masih pasang. Tapi kami memutuskan mencoba beberapa spot, salah satunya tempat Dede dan Mikala serta Mus main. Menurut saya ombak di spot ini masih sepupu jauh dengan ombak di Teahupoo. Mirip sekali, kiri, tebal dan barrel…

Sekali lagi Leo rocks here! Ada juga Didin, local pangandaran yang ikut. Wah ternyata ombak di sepanjang garis pantai yang ini tidak mengenal kata flat ya.. Setelah puas di wipe out dan sport jantung disini kami memutuskan jalan balik, siapa tau ada spot lain yang lebih ramah yang bisa kami mainkan. Kami berhenti dan main di satu spot lagi, tapi benar benar windy dan choppy, perpaduan yang sangat merugikan. Akhirnya kami harus mengakui, penyusuran hari ini tidak terlalu sukses, terlebih lagi kita harus ekstra hati hati di daerah ini karena salah satu teman kami kehilangan barangnya di mobil yang sudah dipstikan terkunci.

Untuk menghibur diri kami memutuskan mampir ke Batu Karas dan bermain long board. Suasana tenang dan fun di batu karas selalu bisa mengembalikan mood positif. Tetty teman kami sampai ketagihan mencoba long board disini. Mike, the Singaporean guy, juga terpesona melihat batu karas yang menurutnya mirip sekali dengan cherating, tapi dibalik.

Hari ketiga kami kembali ke point Sucker untuk fotosesion. Kali ini spot ini sengaja dipilih karena karakternya yang sangat fotogenik. Tapi point ini memang tidak pernah mengecewakan. Selalu buat penasaran, karena buat kami tidak semua ombak bisa diambil dengan mudah. Kadang wipe out, kadang juga berhasil.

Akhirnya weekend berakhir, satu mobil harus kembali ke Jakarta. Tapi saya, Andrys, Mike dan Tetty memutuskan untuk memperpanjang hingga dua hari lagi. Kami pindah ke Batu Karas, ke rumah salah satu teman kami. Situasi masih tetap flat sehingga kami memutuskan mencoba ke beach break di Batu Hiu. Wow, tidak sia sia kami kesana, ombak kanannya sangat rapih dan pastinya lumayan ber power. Kami hanya main ber lima selama hampir dua jam penuh. Aaah.. ini lah yang nikmat dari Jawa Barat, ombak nya masih berlebih untuk semua orang. Dan sorenya sesi longboard lagi di Batu Karas.

Hari terakhir, hari kelima, akhirnya saya mengajak Mike menikmati ombak eksklusif di Reef, yang hanya bagus pada musim hujan. Senangnya bisa menyuguhkan ombak beraneka ragam pada tamu.

Dari Batu Karas kami pulang ke Jakarta, langsung ke bandara untuk mengantarkan Mike. Kami sampai bandara pas sejam sebelum jam penerbangan, sehingga dia bisa check in dengan aman. Yeah, trip ini memang luar biasa dengan banyak nya pengalaman baru, persis seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya. Selamat Paskah!!

Less Than 3 Days Wave

Tidak terlalu jauh dari point utama di Pelabuhan Ratu, Cimaja, terdapat point alternatif yang tergolong eksklusif untuk Jawa Barat. Dalam kurun waktu setahun point ini paling paling hanya bisa menampung swell kurang dari 5 kali pertahun. Tahun ini, kami semua beruntung karena bisa menyambanginya samapai 3 kali.

Ketepatan dalam membaca ramalan swell serta kabar dari para local yang saat ini sangat mudah didapat dari facebook benar benar membantu kami untuk menentukan saat yang tepat . Maka, awal Oktober ini sepertinya ideal , dengan arah swell dari barat daya, 7.5ft serta arah angin yang tepat menjanjikan kondisi yang offshore.

Kami terbagi dalam dua rombongan. Mobil pertama dengan para peserta senior seperti Emir, Riki bum bum, DJ Achdyat Andryz sang fotografer dan saya sendiri. Mobil kedua dengan peserta Race alias Iis, Jeje, serta dua orang teman yang baru akan mencoba surfing, Dini dan Attet. Diluar rombongan Jakarta, Bandung crew juga berangkat dengan anggota Luky 347, Inong, Aldy dan Imam. Bahkan teman Singapore kami yang langganan surf West Java juga tidak mau ketinggalan. Mike Lim terbang langsung dari Singapore ke Jkt dan menuju ke Cimaja. Mungkin kalau di Pelabuhan Ratu sudah ada badara bisa dipastikan dia akan menunggu kami di Cimaja hahaha…

Setelah acara jemput jemputan yang lumayan memakan waktu, kami berangkat pukul 5 subuh dari Jakarta dengan semangat mengebu gebu. Dalam waktu 3 jam saja kami tiba di Cimaja. Ternyata saat itu air laut baru akan pasang, jadi langsung kami memutuskan untuk surfing di Cimaja dulu. Sepertinya saat itu tidak terlalu pas untuk pemanasan, set set 4 ft dan wipe out yang lumayan lama menyegarkan badan yang masih terserang kantuk.
Barulah keesokan harinya, setelah melihat Cimaja close out, kami dengan semangatnya langsung menuju kearah Loji, point kiri yang ekslusif itu. Dan benar saja, pemandangan dari atas saat itu benar banar bagaikan mimpi. Deretan swell yang rapih dengan interval yang lumayan sering, offshore, serta ukuran yang pas sangat serasi dengan hamparan sawah di sisinya.

Ternyata bukan kami saja yang berpikiran ke Loji, sepertinya semua orang di Cimaja pindah kesini. Tapi meskipun begitu, ombak Loji sedikit tricky, jika kau bukan local atau surfer yang sering surfing di Loji, pastinya agak bingung untuk menempatkan posisi untuk mengambil ombak. Hal inilah yang saya manfaatkan, karena hampir selalu para turis gagal meneruskan ombak besar yang mereka ambil Seakan akan tidak diberikan waktu beristirahat, set yang datang terus menerus selalu bagus untuk diambil.

Emir dan Race juga bolak balik mengambil ombak Loji yang terkenal sangat panjang. Jika kau bisa bertahan, hal yang sangat mudah dilakukan di point ini, maka panjang ombaknya bisa mencapai hingga 500 meter! Sangat banyak yang bisa dilakukan dengan ombak sepanjang 500 meter, bagi yang belum terbiasa dengan ombak kiri seperti saya ( bahkan setelah bertahun tahun), ombak ini memberikan waktu yang cukup untuk mengecek posisi kaki, posisi tangan dan badan. Bagi yang sudah menguasai sih jangan ditanya berapa cutback, bottom, dan floater yang bisa dilakukan.

Tapi semua itu berubah saat para grommet datang. Nah ini dia penguasa ombak sebenarnya! Mereka dengan sangat aktif mengambil alih hampir semua ombak yang memaksa kami untuk maju ke depan dan bersaing secara adil.

Ternyata ombak ini tidak bertahan seharian. Lewat jam makan siang, angin mulai berubah arah dan merusak bentuk ombaknya. Dan setelah pasang penuh set set yang datang pun semakin jarang dan ukurannya semakin kecil. Sepertinya memang sudah saat nya sesi menyenangkan ini diakhiri.

Walaupun semua harus berakhir tapi rasa dan sensasi dari surfing itu sendiri tidak mudah hilang. Hal inilah yang menjadi charger kami semua untuk bertahan selama semingu bahkan dua minggu kedepan menghadapi kerjaan di Jakarta, dan hal ini juga yang membuat kami ingin terus dan terus merasakan sensasi ombak , have a nice surf semua!

Patroli Gajah Tangkahan

Beberapa jenis binatang biasa diperbantukan untuk manusia, terutama dalam hal penjagaan. Sebutlah, jenis tertentu dari anjing, atau kuda untuk pasukan kavaleri. Namun Gajah masih terbilang langka sebagai asisten manusia terutama saat ini.

Kali ini kami mengunjungi suatu lokasi yang terkenal dengan partoli gajahnya, tepatnya di Tangkahan, kawasan konsevasi Gunung Leuser, Sumatra Utara. Dari Jakarta kami terbang menuju Medan selama kurang lebih 2,5 jam. Setelah beristirahat sejenak dan bertemu dengan pemandu kami, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Lawang, 3 jam perjalanan dari Medan kalau tidak terjebak macet. Sayangnya angka 3 jam itu lebih sering membengkak lantaran lalu lintas di Medan yang mulai bersaing dengan Jakarta.

Menjelang malam kami tiba di Bukit Lawang. Tidak sulit mencari penginapan di tempat yang ternyata merupakan tujuan wisata di kala akhir minggu bagi warga Medan ini. Harga penginapan sangat bervariasi sesuai fasilitas yang ditawarkan. Antara 100rb – 250rb. Dan beberapa penginapan menyediakan restaurant bagi tamu-tamunya. Kelelahan karena perjalanan yang nonstop, ditambah suhu udara yang sejuk membuat kami tidak berlama lama menahan kantuk dan langsung istirahat begitu mendapatkan kamar masing masing.
Keesokan paginya, kami memutuskan tidak langsung untuk lanjut ke Tangkahan tapi mencoba dulu rafting di sungai Wompu. Dari Bukit Lawang ke Sungai Wompu berjarak sekitar 2 jam perjalanan. Untuk mencapai lokasi rafting, mobil yang wajib digunakan adalah four wheel drive. Sebenarnya jarak tempuh tidak terlalu jauh, hanya medan jalannya lah yang memakan waktu demikian lama.

Bayangkan, setelah lepas dari jalan aspal kami menempuh jalan tanah diantara perkebunan kelapa Sawit. Mobil terguncang kesana kemari, dan ternyata ini bukan bagian yang paling parah. Tidak lama, jalam tanah berubah menjadi jalanan berlumpur. Dan barulah saya mengerti, mengapa rafting tidak terlalu popular dikalangan warga Medan. Terlalu banyak yang harus dilalui sebelum bisa menikmati arus sungai Wompu.

Sungai Wompu berlevel 3 dan berjarak tempuh 3 jam untuk sampai ke stop pertama. Jeram-jeramnya besar dan banyak area tenang setelahnya sehingga tidak terlalu melelahkan. Menyenangkan rasanya menghirup udara segar di pegunungan, dan merasakan sejuknya air sungai yang terpercik. Siang hari menjelang sore akhirnya kami kembali ke Bukit Lawang.
Persiapan ke Tangkaha dimulai saat kami selesai membersihkan diri di Bukit Lawang. Kami menyiapkan tas untuk keperluan sehari saja, karena lebih praktis untuk membawa barang barang yang diperlukan saja selama menginap disana.

Dengan mobil yang sama kamipun berangkat. Perjalanan ke Tangkahan sekitar 3 jam. Tadinya saya berharap kondisi jalan akan lebih baik dari kondisi jalan ke Sungai Wompu. Ternyata saya terlalu cepat berharap. Lepas dari jalan aspal berbatu yang hanya bisa kami nikmati sekitar30 menit, ketahanan kami langsung diuji dengan jalan berlumpur diantara kebun Sawit yang seakan tak ada habisnya.

Behubung kami berangkat di sore hari, maka malam turun disaat kami masih berjuang di tengah jalan. Keadaan sangat gelap. Terbanting banting selama 3 jam benar benar menguras tenaga dan mental. Dan ketika akhirnya kami sampai di tujuan, ternyata tidak terdapat fasilitas seperti yang diharapkan. Hanya ada satu atau dua tempat menginap seadanya dengan harga 60 ribuan semalam, kamar mandi luar plus menimba sendiri. Tapi untunglah rasa lelah dibadan membantu cepatnya kami terlelap tanpa banyak pertimbangan.

Paginya, di tempat menginap kami harus membayar retribusi untuk memasuki kawasan konservasi. Setelah itu barulah kami dapat meneruskan perjalanan kedalam. Tidak lama saya sudah bisa melihat para Gajah itu sedang menikmati sarapan paginya di kebun kebun. Mereka terlindung dalam kawasan khusus yang dipagari kawat.

Setelah menjemput 2 ekor gajah dan pawangnya, dimulailah petualangan kami. Menunggang Gajah memberikan sensasi yang aneh, seperti kau hidup dimasa lalu, dimana putri putri India bertamasya dengan mengendarai Gajah. Ternyata asal mula penangkaran Gajah ini dari 2 ekor Gajah Thailand yang terus dikembang biakkan sehingga mencapai 14 ekor saat ini. Dan mereka terlatih dengan baik untuk melakukan patroli berkala hutan di kawasan konservasi untuk menghindari penebangan dan perburuan liar.

Mengendalikan Gajah susah susah gampang. Kuncinya ternyata dari gerakan kaki kita di belakang telinganya. Kalau yang di gerakkan kaki kiri maka ia berbelok kea rah kiri, dan sebaliknya. Untuk menyuruhnya berjalan, cukup dengan menggerakkan kedua kaki.
Kami harus menyebrangi sungai yang berarus untuk memasuki hutan. Dengan Gajah sebagai tunggangan, rasanya sangat kokoh seperti kapal tongkang. Begitu juga saat memasuki hutan, walaupun para Gajah itu telah membuat jalur sendiri, tetap saja rasanya seperti mengendarai traktor, tidak ada yang bisa menghalangi.

Begitulah, walaupun perjalanan yang dilakukan sangat jauh dan melelahkan tetapi pengalaman yang didapat juga tidak bisa dibandingkan dengna yang lain. Apalai jika seusai mengendarai Gajah, ditutup dengan sesi memandikan Gajah. Selamat terkena siraman!!

Edge of Borneo

Perjalanan dimulai dengan pesawat dari Jakarta menuju ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Dalam 2.5 jam saya sudah tiba di kota yang terkenal dengan Kota Minyak ini, dan kesan pertama saat melihat kota ini adalah bersih dan modern, tidak seperti layakanya kota kota diluar Jakarta. Tapi sayangnya hanya semalam saya transit dikota ini sebelum melanjutkan perjalanan kearah utara.

Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan masih dengan pesawat menuju ke Tanjung Redeb, kabupaten Berau yang terletak di utara Kalimantan Timur dengan lama perjalanan 1 jam. Untuk alternatif bisa melalui jalan darat dengan mobil juga hanya saja waktu yang dibutuhkan mencapai 20 jam.

Tanjung Redeb sendiri dikenal sebagai Kota Batubara,sehingga tidak lama saya dikota ini saya melihat banyak mobil mobil operasional dari perusahaan batubara yang berseliweran. Tidak sulit mencari penginapan disini, karena merupakan fasilitas standar dengan banyaknya perusahaan batubara yang ada. Di Tanjung Redeb kami saya bermalam lagi sembari menghubungi teman teman dari TNC, The Nature Conservacy. Bersama mereka kami merencakan untuk berangkat keesokan paginya dengan speedboat menyusuri sungai yang terletak di tengah kota Tanjung Redeb, menuju kearah Timur,ke muara, dimana kami akan mengarungi laut lepas.

Pada jam yang ditentukan kami berkumpul di dermaga, siap dengan perbekalan dan tas tas. Perjalanan yan ditempuh untuk sampai ke muara berkisar 40 menit., setelah itu segeta kami melanjutkan perjalanan mengarungi laut lepas menuju kepulauan Derawan yang terkenal dengan kekayaan bawah airnya.

Setelah kurang lebih satu jam, tibalah kami di salah satu pulaunya, pulau Maratua. Dari jauh saja keindahannya sudah terlihat jelas, air laut yang jernih, gradasi warna dari biru tua ke biru kehijauan yag berakhir di hamparan pasir putih dan jajaran nyiur yang memayungi garis pantainya.

Pulau indah ini hanya memiliki 2 resort yang dimiliki pengusaha Malaysia dan Jerman. Belum ada pengusaha lokal yan mencoba untuk membuka usaha disini. Sementara penduduk lokal menempati 4 kampung yang tersebar di Maratua ini. Hampir semua tamu yang terdapat di Maratua merupakan turis Eropa dan Korea. Maka tidaklah heran jika tariff yang dipasang pun dalam dolar. Untuk semalam di Maratua Paradise, tempat kami menginap, diberikan tariff 450 ribu termasuk makan tiga kali sehari. Tapi untuk menikmati fasilitas diving yang memang merupaka objek wisata utama disana , kita harus merogoh kocek sekitar 300 ribu untuk menyewa peralatan diving dan 300 ribu lagi untuk Dive Master yang akan menjadi guide kita selama diving di Maratua.

Tapi semua pengeluaran kita itu akan terbayarkan dengan harga yang pantas. Dari point Pasir di depan resort yang hanya sedalam 5-10 m, dihuni beragam biota laut, dimana kita bisa menemukan scorpion fish, crocodile fish, ikan setengah, dan banyak lagi. Puas melihat lihat di Point Pasir, kami melanjutkan ke Turtle traffic point. Dari namanya sudah terbayang biota apa yang banyak menghuni point ini. Benar sekai, turtle atau penyu hijau. Ini adalah tempat dimana mereka beristirahat, sehingga jika kita menyelam di point ini jangan terkejut bila penyu penyu ini melayang diatas, dikiri, kanan dan bawah kita.

Dari Tutle traffic point, kami melanjutkan ke pulau Kakaban. Kakaban merupakan atoll atau karang cincin yang naik ke permukaan ratusan tahun yang lalau. Hal yang unik dari pulau ini adalah terdapatnya danau yang berisi ubur ubur yang telah berevolusi selama ratusan tahun sehingga kehilangan kemampuannya memeprtahankan diri, dengan kata lain tidak menyengat. Hal ini disebabkan karena air asin yang terjebak di danau tidak mempunyai akses keluar dan sebaliknya sehingga biota yang terdapat didalamnya tidak mempunyai predator. Pada saat hujan ubur ubur yang ada naik ke permukaan sehingga danau akan terlihat penuh dengan ubur ubur tersebut. Pertama melihatnya saya ragu untuk mencoba masuk, tetapi setelah diyakinkan bahwa hal ini aman, saya pun mencoba, dan benar saja, mereka tidak menyengat.

Menjelang sore kami pun kembali ke resort. Kepulauan Derawan ini memang benar benar memiliki potensi yang tidak terbatas untuk pariwasa Indonesia. Kalimanta Timur ternyata tidak hanya dikenal dengan batubaranya saja, tetapi juga keindahan alamnya.